Jumat, 22 November 2013

UNIDENTIFIED DREAM

       Saat berbicara mimpi, aku sering bingung sendiri apa sih mimpiku ini sebenarnya. Bukannya aku tak punya mimpi, tapi mimpiku terlalu banyak sampai aku bingung memilah mana yang terbaik. Suatu waktu, aku sempat di buat pusing dengan mimpiku sendiri. Aku bingung mau dibawa ke mana hidupku yang singkat ini. Sempat terpikir bahwa aku akan berkeliling Indonesia mulai dari tiap sudut kecilnya sampai tempat yang memang "besar" di mata dunia. Tapi aku selalu memikirkan keterbatasan waktu dan biaya milikku. Dan sempat ku ganti mimpiku untuk menjadi ahli logistik di masa mendatang. Tapi lagi-lagi aku terbawa ke angan kelamku. Selalu aku memikirkan hal jelek yang akan terjadi nanti. Kenapa aku selalu memikirkan kegagalan? Apakah nanti aku akan menjadi pribadi yang gagal? Entahlah. Setahuku, sampai saat ini aku masih memiliki kehidupan yang penuh warna. Meskipun aku masih bingung akan tujuanku hidup sebenarnya. Dan kedua skenario mimpiku di atas tadi masih aku jalani. Aku masih tetap kuliah di jurusan logistik dan aku masih juga doyan traveling. Yang jadi acuanku sekarang adalah pepatah kuno yang memang selalu benar menurutku. "Masa lalu adalah pelajaran, masa depan adalah misteri dan masa kini adalah realita."

SHOCKING MOMENT EVER

     Sabtu, 26 Oktober 2013 menjadi malam minggu penuh pilu bagiku bahkan seluruh keluargaku. Malam yang seharusnya menjadi malam penuh canda tawa serta kehangatan keluarga berubah menjadi malam sejuta air mata. Sabtu, 26 Oktober 2013, entah aku harus cerita dari mana. Saat aku menulis ini pun, air mata tak bisa ku tahan lajunya. Malam itu, aku terdiam, merenung, mengenang dan menangis. Langit kelam seakan enggan pergi dari batin dan pikiranku. Laksana hidup di tengah kesedihan. Akupun larut di dalamnya. Semua kenangan, semua tawa, semua pesan terus menerus bergulir di pikiranku. Kenapa hal itu mesti terjadi?

Kamis, 21 November 2013

GAMBIR

     Sinar sang surya pagi menghangatkanku di sudut stasiun gambir. lalu lalang kendaraan terus menerus nampak di mataku. Sesekali terdengar suara klakson kereta api membangunkan lamunanku. Oh stasiun gambir.
     Pagi ini, aku sendiri menatap hidup dan kali ini aku tak sengaja ada di tanahmu, stasiun gambir. Terima kasih atas kesudianmu untuk menjadi temanku pagi ini di kala kereta itu meninggalkanku.


Jakarta, 17 Oktober 2013

TANPA SADAR

     Sore kelabu menemani langkah kaki yang rapuh menuju kursi tua itu. Ku sandarkan raga ini sembari berasap. Dari serambi ini kupandangi setiap jengkal makhluk hidup di hadapanku. Tak menarik memang. Tapi aku tak punya pilihan lain.
     Lima belas tahun belakangan, inilah hal terasyik dalam hidupku. Menyendiri ditemani sepi. Terkadang angin sore datang menyapa. Terkadang pula air hujan datang berkunjung. Di mana orang-orang? Itu pertanyaan tersulit yang pernah aku dengar. Entahlah di mana mereka. Andai saja kau bertanya lima belas tahun yang lalu, aku pasti akan menjawabnya. Entah mengapa semua pergi meninggalkanku. Apa salahku kepada mereka sampai menengokku pun tak sudi. Lima belas tahun yang lalu, aahh, apa yang telah terjadi?
     Kenapa aku dicampakkan? Kenapa aku tak dihiraukan? Kenapa aku terkubur?


Argo Parahyangan, 11 Oktober 2013