Jumat, 22 November 2013

SHOCKING MOMENT EVER

     Sabtu, 26 Oktober 2013 menjadi malam minggu penuh pilu bagiku bahkan seluruh keluargaku. Malam yang seharusnya menjadi malam penuh canda tawa serta kehangatan keluarga berubah menjadi malam sejuta air mata. Sabtu, 26 Oktober 2013, entah aku harus cerita dari mana. Saat aku menulis ini pun, air mata tak bisa ku tahan lajunya. Malam itu, aku terdiam, merenung, mengenang dan menangis. Langit kelam seakan enggan pergi dari batin dan pikiranku. Laksana hidup di tengah kesedihan. Akupun larut di dalamnya. Semua kenangan, semua tawa, semua pesan terus menerus bergulir di pikiranku. Kenapa hal itu mesti terjadi?


     Sabtu,26 Oktober 2013 menjadi akhir dari semua kenangan itu. Tak akan ada lagi kenangan yang akan tercipta di hari-hari mendatang. Sri Puji Astuti, nama indah penuh nuansa Jawa. Nama yang melekat di kehidupan beliau. Bulek Tutik, aku biasa memanggil beliau dengan nama itu. Bulek yang paling aku sayangi, bulek yang selalu menanyaiku kabar, bulek yang selalu aku datangi saat aku pulang, bulek yang selalu mendukung segala keputusanku, bulek yang selalu ada saat aku butuh kini tak lagi ada di kehidupan duniawi ini lagi. Tuhan telah memanggilnya. Aku tau aku tak patut berlarut dalam kesedihan. Semua adalah jalan hidup beliau. Semua adalah kehendak-Nya. Tapi, kenapa beliau harus pergi saat aku tak ada di sampingnya? Aku harus bagaimana?

      Saat melihat jasad beliau, aku terdiam. Kucoba tahan laju air mataku. Berhasil. Namun saat ku buka peti tempat jasad beliau di rebahkan, tak sanggup kubendung laju air mataku. Aku menjadi histeris, seakan tak percaya bahwa itu adalah beliau. Keceriaan bersama beliau semasa hidup terus terkenang, menambah keruh suasana batinku. Tak kuasa aku menahan kesedihan sampai beliau terkubur di dalam tanah.

     Saat itu, Eko Dhana Subandono, anak beliau yang masih 10th belum tau apa yang sedang terjadi. Dia masih dalam perjalanan dari tempat tanteku di Banyuwangi. Tak sanggup aku membayangkan bagaimana reaksinya nanti. Saat dia datang, semua keluarga siap dengan sambutan hangat untuknya. Anak kecil itu dengan polos memelukku saat baru turun dari mobil. Dia memang dekat denganku. Bahkan dia kuanggap adik kandungku sendiri karena terlalu sering bersama. Semua keluarga melempar senyum, mengajak bicara dengan harapan dia tak menanyakan tentang ibunya. Kemudian malam itu berakhir dengan Dhana yang tak tau kabar ibunya.

     Keesokan harinya, di pagi yang sedikit cerah, semua kesedihan akan kembali terjadi. Saat semua keluarga sepakat untuk memberi tau dia tentang ibunya. Aku tak sanggup melihatnya. Saat dia diajak ke pusara ibunya, dia tampak biasa saja sampai dia melihat banyaknya karangan bunga untuk ibunya. Pecah semua suasana saat itu. Tangisannya, jeritannya, histerisnya dia kembali membawa kesedihan mendalam. Apa salah anak ini. Kenapa dia harus kehilangan ibu di saat dia benar-benar masih membutuhkan kasih sayang ibunya.

     Tangisannya memancing air mata seluruh keluarga, termasuk diriku ini. Tangisannya menjadi jadi saat melihat nama ibunya di nisan pusara itu. Aku tak tega melihatnya. Akupun berpaling karena tak sanggup merasakan kesedihan anak kecil ini.

     Kepergian ini memang sangat memukul seluruh keluarga. Tapi kami tak bisa menyangkalnya. Semua telah terjadi dan yang kami bisa lakukan hanyalah mendoakan beliau. Dan sesuai pesan terakhir beliau saat di rumah sakit, beliau meminta ayahku untuk merawat Dhana setelah beliau pergi. Dan kini semua kesedihan haruslah berakhir. Agar beliau bisa tenang di atas sana. Semoga bulek tenang di sisi Allah SWT. Semoga segala dosan bulek di ampuni Allah SWT, amal bulek diterima oleh Allah SWT dan mendapatkan tempat terindah di sana. Amin amin amin. Aku janji, aku akan jadi kakak terbaik buat Dhana bulek. I love you, we all love you. Bulek yang tenang ya di sana. :')



Teruntuk Bulek Sri Puji Astuti. 14 April 1963 - 26 Oktober 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar